Home > Uncategorized > Mengungkap Praktik Corporate Social Responsibility dan Prospeknya Dalam Mencegah Kerusakan Lingkungan

Mengungkap Praktik Corporate Social Responsibility dan Prospeknya Dalam Mencegah Kerusakan Lingkungan


  1. Pendahuluan
  1.  
    1. Latar Belakang Masalah

    Keberadaan perusahaan dalam masyarakat dapat memberikan aspek yang positif dan negatif. Di satu sisi, perusahaan menyediakan barang dan jasa yang diperlukan oleh masyarakat, namun di sisi lain tidak jarang masyarakat mendapatkan dampak buruk dari aktivitas bisnis perusahaan. Banyak kasus ketidakpuasan publik yang bermunculan, baik yang berkaitan dengan pencemaran lingkungan, perlakuan tidak adil kepada pekerja, kaum minoritas dan perempuan, penyalahgunaan wewenang, keamanan dan kualitas produk, serta eksploitasi besar-besaran terhadap energi dan sumber daya alam yang menyebabkan kerusakan alam (Sulistiyowati, 2004).

    Sebagai bukti nyata Spillane (2007) mengemukakan ada beberapa kasus yang terkait dengan ketidakpuasan publik atas aktivitas perusahaan di Indonesia, seperti yang dilakukan oleh PT. Lapindo Brantas di Sidoarjo, Jawa Timur, Newmont Minahasa Raya di Buyat, Sulawesi, PT. Freeport di Irian Jaya.

    Di dalam akuntansi konvensional, pusat perhatian perusahaan hanya terbatas kepada stockholders dan bondholders, yang secara langsung memberikan kontribusinya bagi perusahaan, sedangkan pihak lain sering diabaikan.

    Berbagai kritik muncul bagi konsep akuntansi konvensional, karena akuntansi konvensional dianggap tidak dapat mengakomodasi kepentingan masyarakat secara luas. Hal ini mendorong munculnya konsep akuntansi yang baru, yang disebut sebagai Corporate Social Responsibility.

    Corporate Social Responsibility menunjuk pada transparansi pengungkapan sosial perusahaan atas kegiatan atau aktivitas sosial yang dilakukan oleh perusahaan. Dimana transparansi informasi yang diungkapkan tidak hanya informasi keuangan perusahaan, tetapi perusahaan juga diharapkan mengungkapkan informasi mengenai dampak (externalities) sosial dan lingkungan hidup yang diakibatkan aktivitas perusahaan.

    Darwin (2004) mendefnisikan bahwa Corporate Social Responsibility sebagai mekanisme bagi suatu organisasi untuk secara sukarela mengintegrasikan perhatian terhadap lingkungan dan sosial ke dalam operasinya dan interaksinya dengan stakeholders, yang melebihi tanggung jawab organisasi di bidang hukum.

    Adanya masalah sosial dan lingkungan yang ditimbulkan oleh aktivitas bisnis perusahaan, maka sudah selayaknya entitas bisnis bersedia untuk menyajikan suatu laporan yang dapat mengungkapkan bagaimana kontribusi mereka terhadap berbagai permasalahan sosial yang terjadi di sekitarnya.

    Namun, laporan tahunan yang selama ini dianggap sebagai media yang paling tepat untuk mengkomunikasikan berbagai informasi yang relevan dari manajemen perusahaan, tampaknya masih belum dimanfaatkan secara optimal untuk mengungkapkan masalah-masalah yang berhubungan dengan lingkungan sosial.

    Belum optimalnya pemanfaatan laporan tersebut, sangat mungkin disebabkan karena rendahnya kesadaran perusahaan dalam mengungkapkan permasalahan sosial dan lingkungan yang terjadi. Rendahnya kesadaran perusahaan untuk melakukan pengungkapan masalah lingkungan dan sosial salah satunya dapat disebabkan karena sampai saat ini pengungkapan sosial merupakan suatu bentuk pengungkapan yang bersifat sukarela, sehingga timbul anggapan bahwa tidak menjadi soal apabila suatu perusahaan tidak melakukan pengungkapan sosial. Padahal, pengungkapan masalah sosial dan lingkungan yang dilakukan oleh suatu perusahaan merupakan bentuk akuntabilitas perusahaan tersebut kepada publik dan juga sebagai usaha untuk menjaga eksistensi perusahaan tersebut di masyarakat.

  1. Tinjauan Pustaka
    1. Definisi Corporate Social Responsibility

    Pertanggungjawaban Sosial Perusahaan atau Corporate Social Resposibility (CSR) adalah mekanisme bagi suatu organisasi untuk secara sukarela mengintegrasikan perhatian terhadap lingkungan dan sosial ke dalam operasinya dan interaksinya dengan stakeholders, yang melebihi tanggung jawab organisasi di bidang hukum (Darwin, 2004).

    Pertanggungjawaban sosial perusahaan diungkapkan di dalam laporan yang disebut Sustainability Reporting. Sustainability Reporting adalah pelaporan mengenai kebijakan ekonomi, lingkungan dan sosial, pengaruh dan kinerja organisasi dan produknya di dalam konteks pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Sustainability report harus menjadi dokumen strategik yang berlevel tinggi yang menempatkan isu, tantangan dan peluang Sustainability Development yang membawanya menuju kepada core business dan sektor industrinya.

    Darwin (2004) mengatakan bahwa Corporate Sustainability Reporting terbagi menjadi 3 kategori yaitu kinerja ekonomi, kinerja lingkungan dan kinerja sosial. Sedangkan Zhegal & Ahmed (1990) mengidentifikasi hal-hal yang berkaitan dengan pelaporan sosial perusahaan, yaitu sbb.:

  1. Lingkungan, meliputi pengendalian terhadap polusi, pencegahan atau perbaikan terhadap kerusakan lingkungan, konservasi alam, dan pengungkapan lain yang berkaitan dengan lingkungan.
  2. Energi, meliputi konservasi energi, efisiensi energi, dll.
  3. Praktik bisnis yang wajar, meliputi, pemberdayaan terhadap minoritas dan perempuan, dukungan terhadap usaha minoritas, tanggung jawab sosial.
  4. Sumber daya manusia, meliputi aktivitas di dalam suatu komunitas, dalam kaitan dengan pelayanan kesehatan, pendidikan dan seni.
  5. Produk, meliputi keamanan, pengurangan polusi, dll
  1.  
    1. Tujuan Pengungkapan Sosial

    Pertanggungjawaban sosial timbul jika organisasi memiliki kesadaran bahwa mereka memiliki kewajiban untuk melakukan pertanggungjawaban terhadap lingkungannya. Ramanathan (1976) dalam Puspitaningrum (2004) mengemukakan tiga tujuan dari pengungkapan sosial, yaitu:

  1.  
    1.  
      1.  
        1. Mengidentifikasi dan mengukur kontribusi sosial perusahaan tiap periode, yang tidak hanya berupa internalisasi sosial cost dan social benefit, tetapi juga pengaruh eksternalitas tersebut terhadap kelompok sosial yang berbeda.
        2. Untuk membantu menentukan apakah strategi dan praktek perusahaan secara langsung mempengaruhi sumber daya dan status kekuatan dari individu, masyarakat, kelompok sosial, dan generasi yang konsisten dengan prioritas sosial di satu sisi dengan aspirasi individu di pihak lain.
        3. Untuk menyediakan secara optimal informasi-informasi yang relevan dengan unsur-unsur sosial dalam tujuan, kebijakan, program, kinerja, dan sumbangan perusahaan terhadap tujuan sosial.
        4. Untuk meningkatkan keunggulan daya saing perusahaan dalam globalisasi dan/atau perdagangan bebas
    1. Corporate Social Responsibility dan Lingkungan

    Disclosure lingkungan dalam praktik seiring dengan semakin meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap kepedulian lingkungan dan semakin diaturnya masalah lingkungan dalam bentuk undang-undang, maka jumlah disclosure lingkungan dalam annual reports meningkat sejak 1989 (Dahlan, 2003). Sedangkan menurut survey KPMG, selama 1994-1995 perusahaan-perusahaan yang men-disclose lingkungan di United Kingdom semakin meningkat, tetapi kurangnya standar atau pedoman, bersamaan dengan adanya ketidakpastian kepada siapa disclose lingkungan tersebut ditujukan, membuat pelaporan isu lingkungan tersebut sangat bervariasi (Hackston, 1996).

    Dari sisi manajemen, luasnya disclose kewajiban lingkungan berhubungan dengan 4 faktor, yaitu (1) peraturan, termasuk tindakan pemaksaan, (2) peradilan dan negosiasi, (3) implikasi pasar modal, dan (4) pengaruh peraturan yang lain. Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa seiring dengan semakin banyaknya peraturan-peraturan dan pemaksaan hukum, jumlah disclose isu lingkungan semakin meningkat, tetapi karena pedomannya belum jelas dan kepada siapa disclose tersebut ditujukan, maka disclose isu lingkungan masih sangat variatif. Untuk itu perlu pedoman yang jelas dalam pelaporan lingkungan beserta menentukan secara jelas siapa pengguna isu lingkungan yang sebenarnya (Kumalahadi, 2000).

  1.  
    1. Eco-efficiency dan Eco-justice

    Pembahasan mengenai pembangunan berkelanjutan (sustainable development) tidak terlepas dari tiga komponen utama yaitu ekonomi, kinerja sosial dan lingkungan. Dalam implikasi bisnis, pembahasan ketiga komponen di atas harus mengikutsertakan dua komponen terpisah yaitu eco-efficiency dan eco-justice.

    Eco-efficiency didefinisikan sebagai sebuah strategi manajemen yang menghubungkan kinerja keuangan dan lingkungan untuk menciptakan nilai lebih dengan dampak ekologi yang minim. Eco-efficiency berfokus pada kesempatan-kesempatan bisnis dan mengizinkan perusahaan untuk menjadi lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan dan memperoleh hasil yang lebih menguntungkan (World Business Council for Sustainable Development, 2005). Dengan kata lain, eco-efficiency memaksimalkan kuantitas penggunaan sumber daya yang diberikan dan meminimalkan implikasi lingkungan dari penggunaan sumber daya terkait dengan perlindungan lingkungan (Deegan, 2000).

    Dalam aplikasinya, eco-efficiency telah banyak mengalami kemajuan dalam dunia nyata. Sebagai contoh, industri, telah sukses mengurangi polusi dan gas emisi, dan mengeliminasi bahan-bahan berbahaya dari proses produksi. Pada masa lalu, bisnis memandang lingkungan dan sustainable development sebagai masalah dan faktor risiko. Namun saat ini mereka memandang kedua hal tersebut sebagai sebuah kesempatan (opportunity) sebagai sumber efisiensi dan pertumbuhan.

    Eco-efficiency tidak hanya terbatas pada usaha peningkatan efisiensi kegiatan perusahaan, tetapi juga merangsang kreativitas dan inovasi untuk mencari cara dan ide baru dalam aktivitas perusahaan. Konsep ini telah bergerak dari pencegahan polusi pada industri manufaktur menjadi sebuah pemicu inovasi dan daya saing (competitiveness). Perusahaan mengimplementasikan eco-efficiency untuk mengoptimalkan proses produksi, menjadikan limbah mereka sebagai sumber daya industri lain, dan memicu inovasi yang memberi peran untuk memproduksi dengan fungsi baru (WBCSD, 2005)

  1. Metodologi Penelitian

      Untuk mengetahui atau mengungkap praktik CSR di Indonesia, penulis menggunakan data empiris pada perusahaan go public yang sahamnya listing di BEJ tahun 2006. Data pengungkapan sosial diambil dari laporan tahunan perusahaan go public tahun 2006.

  1.  
    1. Populasi dan Sampel

    Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan go public di Indonesia yang telah menerbitkan laporan tahunan 2006 berdasarkan data yang diambil dari ICMD, yaitu Indonesian Capital Market Directory. Sampel penelitian diambil dengan menggunakan metode stratified random sampling, yaitu tehnik pengambilan sampel dengan jalan mengklasifikasikan terlebih dahulu suatu populasi ke dalam sub-populasi berdasarkan karakteristik tertentu dari anggota populasi tersebut.

    Jumlah populasi dalam penelitian ini adalah 339 perusahaan go public di Indonesia yang telah menerbitkan laporan tahunan 2006. Penelitian ini menggunakan metode stratified random sampling. Jumlah sampel minimal ditentukan dengan menggunakan rumus Yamane (1973) dalam Mardiyah (2002) sebagai berikut

            n = = = 77.22

dimana: n = Jumlah Sampel

                  N = Ukuran Sampel

                  d = Presisi yang ditetapkan

                  1 = Angka Konstanta

    Kemudian, jumlah total sampel dialokasikan per sektor industri berdasarkan formula Yamane (1973) dalam Mardiyah (2002) dengan ketentuan sebagai berikut.

            ni =

      dimana: ni = Ukuran Sampel yang harus diambil dari strata

                  Ni = Ukuran Sampel minimal

                  n = Jumlah Populasi Per sektor Industri

                  N = Ukuran Populasi

  1.  
    1. Pengungkapan CSR di Indonesia

    Pengungkapan sosial yang dilakukan oleh perusahaan dalam laporan tahunannya diukur dengan menggunakan indeks pengungkapan sosial. Indeks pengungkapan sosial merupakan rasio antara total skor yang diberikan kepada sebuah perusahaan dengan skor yang diharapkan dapat diperoleh oleh perusahaan tersebut. Pengungkapan sosial diproksikan berdasarkan tema kemasyarakatan, ketenagakerjaan, lingkungan hidup, serta produk dan konsumen (Glotire 1992). Selanjutnya masing-masing tema akan dirinci menjadi item-item.

    Dalam menentukan indeks pengungkapan digunakan teknik tabulasi berdasarkan daftar/checklist pengungkapan sosial. Suatu item diberi skor satu (1) jika diungkapkan dan diberi skor 0 (nol) jika tidak diungkapkan.

  1. Analisis Data dan Pembahasan

Tabel 1.

Statistika Deskriptif Pengungkapan CSR

Di Indonesia

  N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
Indeks 83 ,14 ,61 ,3396 ,11112
Pengungkapan Tema Kemasyarakatan 83 ,00 ,69 ,2584 ,18542
Pengungkapan Tema Lingkungan Hidup 83 ,00 ,75 ,1566 ,21763
Pengungkapan Tema Ketenagakerjaan 83 ,06 ,71 ,3694 ,14021
Pengungkapan Tema Produk 83 ,00 ,88 ,5539 ,18288
Valid N (listwise) 83        

    Berdasarkan hasil statistik deskriptif pada tabel 1, luas pengungkapan setiap perusahaan diukur dengan menggunakan angka indeks, yaitu rasio antara total skor yang diberikan kepada sebuah perusahaan dengan skor yang diharapkan dapat diperoleh oleh perusahaan tersebut. Penentuan skor pengungkapan bersifat dikotomi, dimana item pengungkapan diberi nilai skor 1 (satu) jika diungkapkan dan diberi skor 0 (nol) jika tidak diungkapkan. Hasil statistik deskriptif indeks pengungkapan sosial menunjukkan nilai minimum sebesar 0,014, dan nilai maksimum sebesar 0,61, dengan rata-rata sebesar 0,3396. Indeks pengungkapan tertinggi dijumpai pada PT. Astra Graphia, Tbk, sedangkan indeks pengungkapan minimum terlihat pada dua perusahaan, yaitu PT. Delta Dunia Petroindo, dan PT. Bank Pan Indonesia, Tbk

    Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa rata-rata luas pengungkapan pada perusahaan di Indonesia tergolong masih sangat rendah, hal tersebut bisa diamati dari rata-rata nilai indeks yang hanya sebesar 33,96% dari total indeks yang diharapkan.

    Hasil Pengungkapan pada setiap tema Pengungkapan CSR, menunjukkan bahwa Pengungkapan Tema Lingkungan Hidup memiliki jumlah Mean terkecil, yaitu sebesar 0,1156. Hal ini berarti bahwa perhatian perusahaan di Indonesia akan Lingkungan Hidup masih sangat kecil. Hal ini juga didukung dari Statistic Frequency (Sumber data Lampiran 1), yang menunjukkan bahwa ada sekitar 55,4% atau 45 perusahaan dari total sampel sebanyak 83 perusahaan yang sama sekali tidak melakukan kegiatan CSR terhadap lingkungannya.

  1.  
    1.  
      1. Evaluasi ke depan CSR Di Indonesia

    (Peiyuan 2005) mengatakan bahwa “CSR membantu mempertajam kemampuan manajemen untuk menilai dan memberikan kontribusi perusahaan terhadap modal sumber daya alam, makhluk hidup, dan sosial”.

    Dan, (Darwin, 2007), mengatakan bahwa “CSR mempunyai prospoek yang bagus di Indonesia, selain sebagai alat transparansi publik, CSR juga harus bisa digunakan sebagai alat untuk mencegah berbagai kerusakan lingkungan di Indonesia”.

    Tetapi saat ini tingkat pelaporan dan pengungkapan CSR di Indonesia masih relatif rendah. Dan pada umumnya yang laporan yang diungkapkan di dalam Laporan Tahunan adalah informasi yang sifatnya positif mengenai perusahaan sehingga laporan tersebut pada akhirnya hanyalah merupakan alat public relation perusahaan dan bukan sebagai bentuk akuntabilitas perusahaan ke publik dalam hal sosial, kemasyarakatan dan lingkungan.

    Pelaporan saja tidaklah cukup untuk tercapainya akuntabilitas, pelaporan tersebut perlu didukung oleh infrastruktur yang mendorong perusahaan untuk melaksanakan dan melaporkan CSR secara obyektif .

    Berikut ini adalah evaluasi kondisi infrastruktur pendukung pelaporan CSR di Indonesia:

  1.  
    1.  
      1.  
        1. Hingga kini belum ada kesepakatan standar pelaporan CSR yang dapat dijadikan acuan bagi perusahaan dalam menyiapkan laporan CSR. Cakupan standar yang ada sudah cukup komprehensif, namun, belum adanya laporan yang dapat mengikhtisarkan dampak kegiatan perusahaan terhadap sosial dan lingkungan akan menyulitkan stakeholders dalam mengevaluasi efektivitas kegiatan CSR perusahaan.
        2. Sistem governance di Indonesia menyatakan bahwa Dewan Komisaris dan Direksi dalam mengelola perusahaan harus mengutamakan kepentingan perusahaan, yang berimplikasi bahwa tidak hanya kepentingan pemegang saham yang perlu diperhatikan, tetapi juga kepentingan stakeholders lainnya (konsisten dengan konsep CSR). Namun, karena penunjukan kedua organ tersebut dilakukan oleh RUPS, maka diperlukan organ yang mendukung pelaksanaan CSR perusahaan, seperti komite CSR atau perluasan peran organ yang ada, seperti perluasan peran komite audit.
        3. Terakhir, kesadaran publik atas pentingnya CSR semakin meningkat akhir-akhir ini, namun belum sampai pada tingkat dimana publik mempunyai kekuatan untuk menekan perusahaan untuk melaksanakan dan melaporkan kegiatan CSR. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa belum berjalannya infrastruktur pendukung pelaporan CSR bisa jadi menjelaskan mengapa tingkat pelaporan CSR di Indonesia relatif rendah.
      1. Rekomendasi untuk perwujudan CSR yang lebih baik di Indonesia

    Tingkat pengungkapan CSR yang masih rendah membutuhkan banyak perhatian dan rekomendasi untuk mewujudkan CSR yang lebih baik di Indonesia.

    Berikut ini disampaikan rekomendasi yang bertujuan untuk meningkatkan tingkat dan kualitas pelaporan CSR di Indonesia, sehingga tercapai akuntabilitas kegiatan CSR perusahaan terhadap stakeholders.

  1. Pertama, karena Undang-Undang tentang Perseroan Terbatas telah diberlakukan, maka perlu segera disiapkan aturan lanjutan yang secara eksplisit menjelaskan:sektor usaha yang wajib melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan, kapan perusahaan dapat dinyatakan telah melaksanakan tanggungjawabnya sehingga tidak perlu dikenakan sanksi. Dan perusahaan wajib melaporkan kepada pubik terkait dengan sumber daya alam yang digunakan perusahaan.
  2. Kedua, diperlukan riset lebih lanjut untuk mengembangkan standar pelaporan CSR yang dapat mengikhtisarkan efektivitas kegiatan CSR perusahaan, serta diperlukan suatu standar pelaporan CSR yang berlaku global sehingga dapat dijadikan acuan perusahaan di berbagai negara dalam menyiapkan laporan CSR.
  3. Ketiga, standar assurance terhadap laporan CSR yang diterima umum perlu segera disiapkan, dengan memperhatikan karakteristik laporan CSR yang berbeda dari laporan keuangan.
  4. Keempat, perusahaan perlu didorong untuk mengubah sistem governance yang akomodatif terhadap pelaksanaan dan pelaporan kegiatan CSR perusahaan.
  5. Kelima, perlu terus ditumbuhkan kesadaran publik atas pentingnya pembangunan berkelanjutan dan bahwa kesejahteraan sosial dan pelestarian sosial adalah tanggung jawab bersama.
  1. Penutup
  1. Kesimpulan

    Esensi dari CSR sebenarnya bukan hanya terletak pada pelaporan/pengungkapan CSR saja. Tetapi CSR sebenarnya adalah bagaimana perusahaan bisa “berbakti kepada masyarakat, lingkungan dan keadaan sosialnya”.

    Lebih lanjut CSR juga menekankan akan transparansi perusahaan baik dari segi financial dan non-finansial. Sehingga stakeholders dapat mengetahui tentang segala aktivitas baik positif maupun negatif dari aktivitas bisnis perusahaan.

    Bagi Lingkungan CSR diharapkan dapat mencegah segala kerusakan lingkungan yang sudah terjadi selama ini. Penggunaan resource yang efisien, kebijakan lingkungan, dukungan pada konservasi baik flora, fauna dan lingkungan hidup, dan regulation compliance adalah sebagian kecil tindakan yang harus dilakukan perusahaan dalam menjaga lingkungan sekitarnya.

    Dan pada akhirnya dengan terciptanya kesinambungan perusahaan akan CSR,peraturan yang jelas, dan kesadaran publik dan perusahaan akan pentingnya CSR akan membuat praktik CSR di Indonesia menjadi lebih baik dan menbuat Indonesia dapat berperan aktif dalam kegiatan perdagangan bebas dan globalisasi.

Categories: Uncategorized
  1. April 15, 2008 at 7:22 am

    Artikel di blog ini sangat bagus dan berguna bagi para pembaca. Agar lebih populer, Anda bisa mempromosikan artikel Anda di infoGue.com yang akan berguna bagi semua pembaca di seluruh Indonesia. Telah tersediaa plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi dengan instalasi mudah & singkat. Salam Blogger!
    http://www.infogue.com
    http://www.infogue.com/lingkungan/mengungkap_praktik_corporate_social_responsibility_dan_prospeknya_dalam_mencegah_kerusakan_lingkungan/

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: